KILAS BATAM – Kasus infeksi saluran pernapasan akut pada anak meningkat di sejumlah wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di Kalimantan Barat, misalnya, kasus ISPA dan pneumonia di RS Bhayangkara Pontianak naik sekitar 10-20 persen sejak karhutla meluas.
Karhutla meluas di sejumlah wilayah seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat. ASEAN bahkan menetapkan status Siaga Alert Level 3 sejak 26 Agustus 2026.
Kementerian Kesehatan RI mencatat 113.336 kasus ISPA akibat karhutla hingga 9 September 2026 di tujuh provinsi terdampak. Dari jumlah tersebut, sebanyak 26.545 kasus terjadi pada balita.
Di Riau, tercatat 10.783 kasus ISPA sepanjang Agustus-September 2026. Kasus paling banyak ditemukan pada kelompok anak usia 0-9 tahun.
Sementara di Kalimantan Selatan, terdapat 524 kasus pneumonia selama periode kemarau dan karhutla.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA, Subsp Kardio(K), mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius. Menurutnya, asap karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga dapat berdampak langsung terhadap kesehatan anak.
“Karhutla bukan sekadar bencana lingkungan, tetapi juga darurat kesehatan anak dan kelompok rentan,” kata Piprim dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom Sabtu (26/9/2026).
Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan. Partikel berukuran sangat kecil tersebut bahkan dapat masuk ke aliran darah.
Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang rentan karena mereka menghirup lebih banyak udara dibandingkan berat tubuhnya. Di sisi lain, sistem pernapasan dan kekebalan tubuh anak masih dalam tahap perkembangan.
Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr Wahyuni Indawati, SpA, Subsp Respi(K), mengatakan dampak paparan asap karhutla terhadap sistem pernapasan anak tidak bisa dianggap sepele.
“PM2.5 dari asap kebakaran hutan dapat hingga 10 kali lebih berbahaya bagi pernapasan anak dibanding PM2.5 dari sumber lain karena komposisi kimianya memiliki potensi oksidasi dan pro-inflamasi yang lebih tinggi,” jelas Wahyuni.
Dampak tersebut terutama perlu diwaspadai pada anak berusia di bawah 5 tahun.
Wahyuni menyebut meta-analisis menunjukkan setiap kenaikan 10 µg/m3 PM2.5 akibat kebakaran hutan berasosiasi dengan peningkatan sekitar 6 persen rawat inap karena asma dan 7 persen kunjungan IGD terkait asma.
Paparan asap karhutla juga tidak hanya berpotensi memicu ISPA. Kondisi tersebut dapat menyebabkan perburukan atau eksaserbasi akut pada anak dengan asma, bronkiektasis, dan penyakit paru kronis lainnya.
Anak dengan penyakit jantung bawaan maupun riwayat displasia bronkopulmonal juga termasuk kelompok yang berisiko mengalami perburukan akibat paparan asap.
Wanti-wanti IDAI soal Aturan Sekolah Saat Kualitas Udara Memburuk
Dampak karhutla juga perlu menjadi perhatian di lingkungan sekolah. Mengacu pada rekomendasi IDAI dan Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Nomor 20 Tahun 2026, pembelajaran di daerah terdampak ditentukan berdasarkan kondisi ISPU harian.
ISPU perlu dipantau sedikitnya dua kali sehari, yakni sebelum pembelajaran dimulai dan pada pertengahan hari.
Ketika ISPU berada pada angka 1-50 atau kategori baik, pembelajaran tatap muka dapat berlangsung normal.
Pada ISPU 51-100 atau kategori sedang, pembelajaran tatap muka tetap berjalan. Namun, aktivitas di luar ruangan seperti upacara, olahraga, dan kegiatan ekstrakurikuler perlu dibatasi atau dipindahkan ke dalam ruangan.
Jika ISPU mencapai 101-200 atau kategori tidak sehat, pembelajaran tatap muka dibatasi secara ketat. Kelompok rentan, termasuk anak-anak, diarahkan untuk belajar dari rumah.
Pada ISPU 201-300 atau kategori sangat tidak sehat, seluruh peserta didik wajib mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Sementara jika ISPU berada di atas 300 atau kategori berbahaya, seluruh kegiatan pembelajaran dilakukan secara jarak jauh.
IDAI kembali mengingatkan orang tua untuk tidak menunda pemeriksaan jika anak mulai menunjukkan gangguan pernapasan.
“Kesehatan anak adalah prioritas utama. Jangan ragu untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat jika muncul gejala sesak napas, batuk berkepanjangan, atau penurunan kesadaran. Pencegahan dan deteksi dini adalah kunci,” tegas Piprim.***












