Warga Singapura Antre Masker Gratis, Udara Buruk Imbas Karhutla RI

Foto: NurPhoto via Getty Images/NurPhoto

KILAS BATAM – Kualitas udara di Singapura memburuk sepanjang malam hingga Jumat (16/10/2026). Indeks Standar Polutan (Pollutant Standards Index/PSI) selama 24 jam di tiga wilayah mencapai kategori sangat tidak sehat.

PSI 24 jam di wilayah tengah Singapura memasuki kategori sangat tidak sehat pada tengah malam dan mencapai 227 pada pukul 09.00 waktu setempat. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang tahun ini. Pada pukul 10.00, nilainya sedikit turun menjadi 226.

Sementara itu, PSI di wilayah timur dan barat masing-masing mencapai 202 dan 201, yang juga masuk kategori sangat tidak sehat. Dua wilayah lainnya mencatat kualitas udara dalam kategori tidak sehat, yakni wilayah utara dengan PSI 150 dan wilayah selatan dengan PSI 183.

Konsentrasi PM2.5 per jam di wilayah tengah dan barat juga berada pada kategori tinggi, masing-masing sebesar 164 dan 158. Sementara itu, pembacaan di wilayah lainnya meningkat dengan kisaran 96 hingga 141.

Kondisi tersebut terjadi di tengah kabut asap yang berdampak pada Singapura. Sejumlah warga pun mengalami kesulitan mendapatkan masker N95 yang dibagikan pemerintah. Di beberapa titik, stok masker habis, mesin penjual otomatis mengalami kendala, dan warga harus mengantre panjang.

BACA JUGA:  HUT RI di IKN, Kala Sang Saka tiba di Nusantara

Nancy Lim, warga berusia 64 tahun, menjadi salah satu yang mengalami kendala saat hendak mengambil masker N95 di Bishan Community Centre pada Kamis (15/10). Ia mendapati stok masker telah habis meski sudah menelepon terlebih dahulu untuk memastikan ketersediaannya.

“Saya pikir mereka akan menyiapkan lebih banyak, mengingat pengambilan masker dijadwalkan berlangsung dari pukul 10.00 hingga 18.00,” ujar asisten klinik paruh waktu tersebut kepada CNA.

Lim akhirnya berhasil mendapatkan masker sekitar setengah jam kemudian, setelah petugas membawa persediaan baru ke lokasi. Selain stok yang habis, kendala teknis dan kebingungan mengenai prosedur pengambilan juga ditemukan di sejumlah lokasi.

Di Ang Mo Kio Bus Interchange, petugas harus membubarkan kerumunan warga lanjut usia setelah salah satu mesin kehabisan masker. Mesin lainnya masih memiliki stok, tetapi tidak bisa dioperasikan karena masalah pasokan listrik.

John Teo, warga berusia 65 tahun yang gagal mendapatkan masker di lokasi tersebut, mengaku bingung dengan informasi yang beredar mengenai pembagian masker.

BACA JUGA:  Kasus Pneumonia Anak RI Naik 20 Persen Sejak Karhutla, Ini Wanti-wanti IDAI

“Saya sudah cukup bingung dengan informasi berbeda-beda di internet mengenai pengambilan masker, seperti siapa yang berhak mendapatkannya dan kapan pembagian dimulai,” ujarnya.

“Saya hanya menggunakan masker kadaluarsa saya (yang saya dapatkan selama COVID-19) karena lebih baik daripada tidak sama sekali… Saya akan naik kereta ke Toa Payoh dan melihat apakah saya bisa sampai di sana.”

Kendala serupa terjadi di Clementi Bus Interchange. Antrean panjang terbentuk saat petugas mengisi kembali mesin penjual masker otomatis. Sejumlah warga mengeluhkan tidak adanya saluran telepon bantuan atau petugas yang bisa dimintai bantuan ketika mengalami masalah.

Berdasarkan pedoman distribusi, orang dengan kondisi medis tertentu seperti asma, ibu hamil, serta anak berusia 7-16 tahun hanya bisa mengambil masker di pusat komunitas. Namun, tidak semua warga mengetahui ketentuan tersebut.

Di Bishan Community Centre, lebih dari 30 warga lanjut usia juga sempat tidak bisa mendapatkan masker setelah stok ukuran dewasa habis. Situs HazeMaskGoWhere masih menunjukkan masker tersedia di lokasi tersebut meski persediaannya sudah habis. Petugas baru mengisi kembali stok sekitar setengah jam kemudian.

BACA JUGA:  Prabowo Sepakati Penyelesaian Masalah Tenaga Kerja RI-Malaysia

Meski sejumlah titik mengalami kendala, pembagian masker berjalan lancar di lokasi lain. Di Cheng San Community Club, Ang Mo Kio, warga hanya perlu menunggu kurang dari dua menit untuk mendapatkan masker saat CNA berkunjung sekitar pukul 11.30.

Jenny Tan, pensiunan berusia 72 tahun yang mengambil masker untuk dirinya dan suaminya, mengaku prosesnya berlangsung mudah.

“Saya tinggal berjalan ke loket dan mendapatkan masker setelah teman saya menyuruh saya datang ke sini. Maskernya lebih dari cukup karena kami berdua sebisa mungkin tetap di rumah untuk menghindari kabut asap,” ujarnya.

Di sisi lain, Pemerintah Singapura mendistribusikan masker N95 secara bertahap melalui sejumlah titik pengambilan, termasuk mesin penjual otomatis di 37 titik transportasi umum dan kantor layanan sosial.

Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura Grace Fu sebelumnya mengatakan pemerintah bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memperluas distribusi masker ke seluruh wilayah.

“Tentu saja, mesin-mesin tersebut membutuhkan waktu untuk menjangkau seluruh wilayah. Karena itu, kami meminta masyarakat Singapura untuk bersabar. Kami akan secepat mungkin menyalurkan semua masker ke setiap bagian negara,” ujarnya.(detik)