Angka Stroke pada Anak Muda Melonjak Tajam 83 Persen, Ahli Soroti Risiko Ini

KILAS BATAM – Stroke selama ini kerap diidentikkan sebagai penyakit yang mengintai kelompok usia lanjut atau lansia. Tetapi, anggapan tersebut perlahan mulai terpatahkan, seiring meningkatnya kasus stroke yang menyerang kelompok usia muda.

Sebuah studi terbaru yang mengamati data medis selama hampir tiga dekade menemukan fakta mengkhawatirkan. Angka kejadian stroke di kelompok usia 20 hingga 54 tahun melonjak tajam hingga 83 persen.

Studi yang dipublikasikan di jurnal medis Neurology tersebut mengungkapkan bahwa tren ini memicu kekhawatiran baru di dunia medis. Sebab, makin banyak anak muda yang berisiko hidup dengan komplikasi atau disabilitas jangka panjang akibat stroke.

“Meskipun stroke secara tradisional dianggap sebagai penyakit orang tua, temuan kami menunjukkan bahwa stroke makin umum terjadi pada orang dewasa muda,” terang peneliti utama dari University of Cincinnati, dr Emily R Fisher, MD.

BACA JUGA:  6 Makanan Antiinflamasi Andalan Warga Jepang, Bikin Otak Fokus

“Di saat yang sama, makin banyak orang yang selamat dari serangan stroke ini. Artinya, makin banyak anak muda yang bakal hidup membawa dampak jangka panjang dari stroke,” lanjutnya.

Jenis Stroke Penyumbang Kasus Terbanyak
Dalam riset tersebut, para peneliti menganalisis data kasus stroke dari periode 1993 hingga 2020. Hasilnya, menunjukkan tingkat kejadian stroke pada anak muda melonjak drastis dari 33,9 kasus per 100.000 orang, menjadi 62,2 kasus per 100.000 orang.

Menariknya, kenaikan ini paling dominan didorong oleh jenis stroke iskemik (stroke penyumbatan). Jenis stroke ini terjadi saat pembuluh darah yang menyuplai darah ke otak tersumbat gumpalan, sehingga sel-sel otak kekurangan oksigen dan rusak dalam hitungan menit.

Kenaikan kasus stroke iskemik di kalangan anak muda tercatat melonjak hingga dua kali lipat, dari 23,8 kasus menjadi 47,3 kasus per 100.000 orang.

BACA JUGA:  Deretan Pemain WeTV Original Pacarku Jinny, Ria Ricis Perankan Jin Krissy dengan Gemas

Tekanan Darah Tinggi Hingga Penyalahgunaan Zat
Lantas, apa pemicu utama yang bikin kasus stroke usia muda meroket?

Para peneliti mengamati adanya peningkatan tren beberapa faktor risiko kesehatan di kelompok anak muda penyintas stroke seiring berjalannya waktu, antara lain:

Tekanan darah tinggi (hipertensi)
Diabetes
Fibrilasi atrium (gangguan irama jantung yang memicu gumpalan darah)
Penyalahgunaan zat terlarang atau narkoba

Salah satu lompatan angka yang paling mencolok terjadi pada riwayat penyalahgunaan zat. Pada rentang 1993-1994, hanya sekitar 4,6 persen pasien stroke muda yang memiliki riwayat penggunaan zat.

Namun pada 2020, angka tersebut melonjak drastis hingga 40,2 persen, yang mana sebagian besar di antaranya berkaitan dengan penggunaan ganja.

Meski begitu, para peneliti menegaskan masih membutuhkan riset lanjutan untuk memastikan, apakah faktor-faktor risiko tersebut menjadi penyebab langsung dari lonjakan kasus stroke pada kelompok usia muda.

BACA JUGA:  Tidur di Akhir Pekan dapat Mengurangi Risiko Penyakit Jantung

Peluang Sembuh Naik, Tapi Cegah Tetap Utama
Di balik kabar memprihatinkan ini, studi tersebut juga membawa angin segar. Peluang kelangsungan hidup (survival rate) pasien stroke usia muda tercatat membaik dibanding tiga dekade lalu.

Tingkat kematian pasien dalam 30 hari pascastroke menurun dari 11,7 persen menjadi 9,4 persen, terutama pada kasus stroke perdarahan (pendarahan intraserebral).

Meski begitu, dr Fisher mengingatkan bahwa selamat dari serangan stroke tak selalu berarti pulih total tanpa cela. Banyak penyintas yang masih harus berjuang mengembalikan fungsi gerak, bicara, hingga memori tubuh dalam jangka panjang.

“Temuan kami menyoroti betapa pentingnya mengenali dan mengontrol faktor risiko stroke sejak dini di usia dewasa,” pungkas dr Fisher.(detik)