KILAS BATAM – Seorang pria menceritakan pengalaman saat jantungnya berhenti berdetak selama sekitar tujuh menit. Dalam kondisi tersebut, ia mengaku melihat tiga bentuk elips dengan gambaran yang berbeda-beda.
Dikutip dari Unilad, pria tersebut awalnya dilarikan ke rumah sakit karena mengalami sesak napas. Setelah diperiksa, dokter menemukan adanya perdarahan hebat pada paru-parunya.
Ia kehilangan begitu banyak darah hingga jantungnya tidak lagi memiliki cukup darah untuk dipompa. Kondisi itu kemudian membuatnya mengalami henti jantung.
Tim medis langsung melakukan upaya resusitasi. Menurut ceritanya, dokter menghabiskan waktu sekitar tujuh menit untuk mencoba mengembalikan detak jantungnya.
Tak hanya mengalami henti jantung, ia juga mengalami stroke akibat otaknya kekurangan pasokan oksigen.
Ia akhirnya sadar dalam kondisi terintubasi, tetapi belum sepenuhnya sadar. Selama sekitar dua hari, ia berada dalam kondisi setengah sadar sebelum akhirnya benar-benar terbangun.
“Apa yang terjadi?” demikian hal pertama yang ditanyakannya setelah sadar.
Melihat Tiga Elips
Selama mengalami kondisi tersebut, pria itu mengaku melihat tiga bentuk elips yang muncul satu per satu dalam kegelapan.
Elips pertama tampak menggantung di ruang gelap. Di dalamnya, ia melihat pegunungan, sungai, hutan, dan awan.
Awalnya, pemandangan tersebut terlihat indah. Namun perlahan warnanya berubah menjadi kekuningan sebelum akhirnya menghilang.
Kemudian muncul elips kedua. Bentuknya ia gambarkan seperti cincin besi yang sedang membara.
Seiring waktu, bagian-bagian dari bentuk tersebut tampak runtuh dan menghilang ketika warnanya berubah seperti besi yang mendingin. Ia juga mengaku mencium aroma besi.
Pengalaman itu kemudian membuatnya penasaran. Setelah sadar, ia sempat menceritakannya kepada seorang perawat.
Menurutnya, sang perawat mengatakan ia memang memiliki aroma darah yang khas.
Pria itu kemudian menduga bahwa gambaran tersebut muncul saat dirinya mengalami henti jantung.
“Saya sekarang menganggap saat itulah saya mengalami henti jantung,” ujarnya dalam cerita tersebut.
Elips ketiga muncul ketika suasana mulai berubah terang. Kali ini, bentuk tersebut dipenuhi awan berwarna merah muda dan biru, mirip pemandangan matahari terbit atau terbenam.
Ia menduga gambaran terakhir itu muncul ketika jantungnya mulai kembali berdetak.
Terpikir dari Buku yang Sedang Dipelajari
Ada satu hal yang menurut pria tersebut mungkin berkaitan dengan bentuk-bentuk yang dilihatnya.
Sebelum mengalami kondisi medis tersebut, ia sedang mempelajari Astronomia Nova, karya astronom Johannes Kepler. Ia tengah mencoba memahami bagaimana Kepler menyimpulkan bahwa orbit planet berbentuk elips, bukan lingkaran.
Konsep tersebut, menurutnya, sudah memenuhi pikirannya selama berminggu-minggu.
Karena itu, ia menduga otaknya yang sedang berada dalam kondisi kritis kemudian menggunakan bentuk elips yang sudah akrab baginya.
Ia juga menganggap gambaran pada elips pertama dan ketiga berkaitan dengan hal-hal yang ia sukai, seperti planet, alam terbuka, dan langit.
Perubahan warna pada elips pertama menjadi kekuningan ia kaitkan dengan kondisi otaknya yang sedang sekarat. Sementara gambaran elips kedua dan aroma besi dikaitkannya dengan bagaimana otak menafsirkan keberadaan darah.
Setelah sadar dan diberi tahu bahwa dirinya sempat mengalami henti jantung dan stroke, ia mengatakan semua pengalaman tersebut mulai terasa masuk akal.
Pengalaman pria ini tidak seperti gambaran pengalaman mendekati kematian yang sering diceritakan orang.
Ia tidak melihat terowongan cahaya. Ia juga tidak melihat anggota keluarga atau orang-orang yang telah meninggal datang menyambutnya.
“Itu saja yang saya lihat. Tidak ada terowongan cahaya atau anggota keluarga yang telah meninggal menyambut saya,” katanya.
Ia justru menggambarkan dirinya sebagai seorang pengamat yang melihat semuanya tanpa banyak emosi. Menurutnya, ia sama sekali tidak merasa takut.
Setelah kejadian tersebut, ia mengaku mengalami sedikit penurunan kemampuan mengingat dalam jangka pendek.
Namun, pengalaman itu juga mengubah pandangannya mengenai kematian. Ia mengaku tidak lagi takut terhadap kematian itu sendiri, meski masih merasa takut terhadap rasa sakit dan penderitaan yang mungkin terjadi sebelum seseorang meninggal.
Ia menggambarkan pengalamannya saat itu sebagai kondisi yang tenang, tanpa rasa sakit maupun ketidaknyamanan.
“Di dalam diri saya semuanya terasa tenang. Tidak ada rasa sakit, tidak ada ketidaknyamanan, tidak ada kekhawatiran,” tuturnya. (detik)












