TANJUNGPINANG – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepulauan Riau (Kepri) pada Agustus 2025 mengalami inflasi sebesar 0,18 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,19 persen (mtm).
Secara tahunan, inflasi Kepri tercatat 2,19 persen (yoy), naik dibanding Juli 2025 yang sebesar 1,97 persen (yoy). Angka ini menempatkan Kepri sebagai provinsi dengan inflasi tahunan terendah keempat di Sumatera setelah Lampung, Bengkulu, dan Kepulauan Bangka Belitung. Inflasi Kepri juga lebih rendah dari rata-rata Sumatera sebesar 3,04 persen dan nasional sebesar 2,31 persen.
Inflasi bulanan di Kepri terjadi pada tiga kota IHK, yakni Batam sebesar 0,08 persen, Tanjungpinang 0,26 persen, dan Karimun 1,03 persen.
Kepala BPS Kepri menjelaskan, inflasi Agustus 2025 terutama didorong oleh kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang naik 0,83 persen dan menyumbang 0,24 persen terhadap inflasi. Kenaikan harga komoditas seperti cabai merah, bawang merah, daging ayam ras, buncis, kacang panjang, dan cabai hijau menjadi pendorong utama. Faktor lain adalah inflasi pada kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar 0,31 persen, serta Pakaian dan Alas Kaki sebesar 0,17 persen.
Sementara itu, kelompok Transportasi mencatat deflasi 0,74 persen akibat promo tarif angkutan udara dalam rangka peringatan HUT RI, sehingga menahan laju inflasi lebih tinggi.
Bank Indonesia (BI) Kepri menegaskan, terkendalinya inflasi tidak lepas dari peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui berbagai langkah stabilisasi, di antaranya rapat koordinasi, pasar murah, penyaluran beras SPHP, edukasi publik, hingga pelantikan Asosiasi Distribusi Bahan Pokok (Adibapok) di Tanjungpinang.
Ke depan, sejumlah faktor yang berpotensi mendorong inflasi September 2025 antara lain pergerakan harga emas perhiasan, penyesuaian harga pangan dari daerah sentra, dan regulasi pengiriman barang konsumsi. Adapun penahan inflasi diperkirakan datang dari musim panen hortikultura, percepatan penyaluran beras SPHP, serta tren penurunan harga minyak dunia.
Bank Indonesia bersama TPID menyatakan akan terus memperkuat sinergi untuk menjaga inflasi Kepri dalam sasaran nasional 2,5 ± 1 persen.***












